Thursday, January 27, 2011

ALLAH BERSAMA KITA



Suatu hari seorang mahasiswa bernama fulan duduk termenung. Dia duduk di salah satu sudut masjid yang biasa dia gunakan solat. Fulan duduk tanpa seorang teman. Tatapan mata yang kosong dan muka yang kusut nampak jelas terlihat di wajahnya. Sesekali dia menundukkan kepalanya. Sesekali pula air matanya menetes. Dari ekspresi yang ditampakkan nampak bahwa ada sebuah masalah yang menghinggapinya.

Fulan adalah seorang mahasiswa S1 di sebuah universitas. Dia kuliah di satu jurusan yang cukup favorit di kampus tersebut. Secara ekonomi fulan tergolong kurang mampu. Bapak dan ibunya hanyalah seorang petani dan pekerja srabutan. Dia adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Kebetulan juga dia adalah anak laki-laki satu-satunya dari ke-5 besaudara.

Selayaknya mahasiswa yang lainnya, setiap hari dia pergi ke kampus. Setiap hari pula dia harus bergulat dengan laporan dan tugas, lum lagi ujian sisipan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Hidup seakan-akan begitu dinamis. Namun ada yang membedakan antara fulan dengan yang lainnya. Aktivitas dia di kampus tidak hanya belajar,mengerjakan tugas dan membuat PR. Dia harus mengerjakan tugas-tugas organisasi yang dia ikuti. Fulan ini adalah seorang aktivis di kampusnya jadi wajarnya saja jika ada sekian banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Lagi pula dia adalah ketua dalam sebuah organisasi. Semakin berat aja,,,tugasnya,,,pokoknya crowded banget lah…

Fulan adalah seorang aktivis dakwah juga. berbagai kegiatan syiar agama dan dakwah sering kali ia ikuti. Dia juga dikenal sebagai orang yang ramah dan baik hati. Orangya murah senyum, tidak sombong, peduli dengan orang lain, dan suka menolong. Setiap hari pekerjaannya tidak lepas dari nuansa keislaman dan dakwah.
Layakanya aktivis dakwah yang lain sering kali masalah-masalah datang menyapanya. Namun kali ini masalahnya cukup berat bagi dia. Masalah akademik yang harus segera ia selesaikan karena tahun ini adalah tahun keempat dia di kampus. Namun amanah dakwah di kampus tidak kunjung selesai,bahkan bertambah berat. Belum lagi ditambah dengan kondisi keluarganya yang memaksanya agar cepat menyelesaikan kuliahnya. Karena orang tuanya sudah tidak mampu lagi membiayainya. Otomatis setelah tahun keempat dia harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri alias mandiri. Padahal saat ini dia belum mempunyai pekerjaan apapun.
Sesekali dia menangis karena teringat akan tanggung jawabnya kepada orang tua. Dia juga bingung bagaimana dengan amanah dakwahnya. Ditambah dengan tanggungan dia pada masalah ekonomi. Masalah ini begitu menyita waktu dan energi baginya. Sering kali dia duduk terdiam sendirian.
Sahabat, mungkin akan ada banyak aktivis dakwah yang bernasib hampir sama dengan “fulan”. Seorang aktivis dakwah dengan se-abreg masalah yang menderanya setiap waktu. Namun jika kita perhatikan dalam sebuah masalah ada hikmah yang ingin Allah sampaikan kepada hambanya. Ada ibroh yang bisa diambil.
Bahwa manusia pasti memiliki masalah adalah sebuah keniscayaan. Karena lewat masalah itulah Allah mendidik hambanya. Sikap kita terahadap masalah itulah yang akan membentuk seseorang. Cara kita menyelesaikan masalah itulah yang akan mendidik kita menjado prang dewasa.
Memang ada banyak sikap yang ditunjukkan ketika masalah itu hinggap pada diri seseorang. Ada yang mengeluh, menggerutu,menangis, dan ada pula yang tegar menghadapinya. Masing-masing orang memiliki cara tersendiri dalam menyikapi masalah yang ada. Namun yang perlu kita tahu adalah bagaimana cara rasulullah menghadapi masalah yang ada. Bagaimana sikap rasulullah saat masalah besar sedang beliau hadapi.
Rasulullah SAW senantiasa berusaha dengan segala kemampuannya untuk menyelesaikan masalah. Rasulullah SAW selalu tegar dalam menghadapi setiap masalah yang datang. Namun rasulullah juga senantiasa berdoa kepada Allah agar senantiasa dimudahkan dalam setiap urusan yang beliau hadapi. Sering kali Allah membalas doa-doa Rasulullah melalui ayat Alquran.
Wahai sahabat, coba perhatikan surat al Insiyirah di bawah ini:
                 •   •  •            
1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
3. yang memberatkan punggungmu[1584]?
4. dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu[1585],
5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain[1586],
8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Ayat ini merupakan jawaban atas doa rasulullah sewaktu rasulullah mendapat banyak kesulitan dalam menyampaikan risalah. Allah ingin menegaskan bahwa Dia tidak akan meninggalkan hambanya saat hambanya sedang berada dalam kesusahan. Bahwa Allah akan senantiasa menjadi pembela dan penolong para dai yang sedang memperjuangkan agama Allah di muka bumi ini. Dia yang akan melapangkan dada para aktivis dakwah ketika beribu masalah menderanya.
Allah telah berjanji dalam surat alam nasyrah di atas bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Ketika kita mengalami kesulitan dan masalah maka disitulah Allah titipkan kemudahan untuk hambanya. Allah titipkan berbagai nikmat kepada hambanya yang sedang mengalami ujian. Misalnya ketika kita diberi ujian, badan kita sakit. Pada saat itulah Allah menitipkan kenikmatan berupa gugurnya dosa kita ketika kita sabar akan rasa sakit itu. Akan ada banyak pahala yang akan di dapat orang yang bersabar dalam sakitnya.
Sahabat, Allah tidak buta, Allah juga tidak tuli. Allah tahu betul keadaan hambanya. Dia senantiasa mengawasi kita dan mendidik kita dengan berbagai ujian yang diberikan kepada hambanya. Orang yang dicintai Allah adalah orang yang mendapat ujian dari Allah. Semakin berat ujian seseorang maka cinta Allah kepada orang tersebut akan semakin besar.
Jika kita perhatikan Allah senantiasa memberikan cobaan yang berat kepada orang-orang yang dicintai Nya. Para nabi dan rasul mendapat cobaan yang sanagat berat. Cobaan yang diberikan kepada mereka melampaui cobaan yang diberikan kepada orang biasa. Namun ternyata ujian dan cobaan itulah yang membuat mereka mulia di sisi Allah.
Nuh AS yang senantiasa sabar menghadapi keluarga dan kaumnya yang bengal. Musa yang senantiasa bertahan dengan kaumnya yang menentang dan kekuatan besar ayah angkatnya yaiitu fira’aun yang senantiasa mengancam nyawanya. Rasulullah yang senantiasa tegar dan sabar mengahadapi ulah kaum kafir quraisy yang senantiasa menentang dan mengahalangi dakwah beliau. Ternyata kesabaran, ketegaran dan kelapangan merekalah yang membuat mulia di sisi Allah. Selain itu mereka senantiasa meminta kepada Allah agar senantiasa memberikan kelapangan, ketegaran, dan kemudahan dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan.
Musa As ketika diperintah berdakwah kepada firaun beliau meminta kepada Allah supaya dimudahkan dalam setiap urusan. Doa Musa AS diabadikan dalam alquran surat thoha ayat 25-35 ini doa nabi Musa AS.
                                        •  •    
25. berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku[915],
26. dan mudahkanlah untukku urusanku,
27. dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
28. supaya mereka mengerti perkataanku,
29. dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,
30. (yaitu) Harun, saudaraku,
31. teguhkanlah dengan Dia kekuatanku,
32. dan jadikankanlah Dia sekutu dalam urusanku,
33. supaya Kami banyak bertasbih kepada Engkau,
34. dan banyak mengingat Engkau.
35. Sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami".

[915] Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah agar dadanya dilapangkan untuk menghadapi Fir'aun yang terkenal sebagai seorang raja yang kejam.
Ini membuktikan bahwa nabi Musa AS juga tidak pernah meninggalkan Allah SWT dalam setiap urusannya. Musa AS selalu meminta pertolongan kepada Dzat Yang Maha kuasa untuk memudahkan segala urusannya. Karean nabi Musa sadar betul bahwa Allah lah satu-satunya tempat berharap. Allah lah tempat meminta pertolongan.
Sebagai aktivis dakwah sudah selayaknya kita mencontoh apa yang dulu pernah dicontohkan oleh para suri tauladan kita. Yakinlah bahwa Allah senantiasa membantu kita. Yakinlah bahwa Allah tidak tidur, yakinlah bahwa Allah maha melihat. Maka hanya kepadaNya lah tempat kita bergantung.
Sahabtku jika kita sadar bahwa masalah yang sedang menimpa kita adalah seseuatu yang akan mendewasakan kita maka tidak perlu mengeluh dalam menghadapi masalah. Tidak perlu menangis dalam menghadapi masalah. Tidak perlu merasa sendiri dalam menghadapi masalah. Ada Allah bersama kita dan ada sahabat sejati yang siap membantu kita. Ada sahabat kita yang senantiasa menjadi tempat kita sharing. Selayaknya Musa AS menjadikan Harun sebagai partner dakwahnya.
Masalah itu untuk diselesaikan bukan untuk ditangisi atau diratapi. Serahkan semuanya kepada Allah setelah kita berusaha. Minta tolonglah kepada Allah selagi kita bisa minta. Jangan pernah biarkan hati kita kosong tanpa Allah. Allah senantiasa mendengar keluh kesah mu kawan. Allah akan senantiasa menjanjikan kenikmatan yang tiada tara untuk para pejuang dakwah. Allah menjanjikan kenikmatan surga bagi kekasihNya. Yakinlah semua yang Allah janjikan pasti bisa kita raih….
Next selamat berjuang, jangn pernah menyerah …..

Faiziin
Yogyakarta, 27 Januari 2011

Monday, January 24, 2011

Raport Kehidupan



Pada suatu hari seluruh siswa berkumpul di sebuah aula. Pakaian putih hitam yang dikenakan para siswa mendominasi aula sekolah. Terlihat wajah-wajah yang penuh dengan kecemasan,harapan, dan takut terlihat dari guratan kening para siswa. Coba tebak hari apakah itu ?
Ya, betul, itulah hari pengumuman kelulusan. Sebuah momen yang dinanti-nanti seluruh siswa setelah mereka melakukan ujian nasional. Setelah mereka menempuh pendidikan selama 3 tahun dan menjalani segala ujian-ujian yang ada di setiap tingkatnya. Maka pada hari pengumuman kelulusan inilah puncak dari segala usaha yang dilakukan siswa.
Karya akumulaatif yang diciptakan dari masing-masing individu akan mendapatkan penilaian pada hari itu. Nilai yang didapat masing-masing siswa akan berbeda, tergantung usaha yang diberikan. Ada yang mendapat nilai ada yang bagus,ada yang kurang bagus dan ada pula yang jelek hingga gelar tidak lulus pun disandang. Namun pada saat itu semua orang berharap agar mereka bisa lulus.
Nilai dan status kelulusan akan sangat menentukan nasib seseorang itulah persepsi masing-masing siswa.Sehingga pada saat penantian pengumuman kelulusan,hati mereka berdegup kencang,khwatir, cemas dan takut bercampur menjadi satu. Bahkan sebagian para siswa ada yang terlihat pucat seperti orang yang sedang sakit. Semuanya larut dalam ketegangan. Tak ada yang bisa bercanda lepas saat itu. Semua orang teringat apa yang sudah mereka usahakan. Ada yang terlihat murung, pucat, dan takut karena pada saat sebelum ujian tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Sehingga pada waktu ujian merasa tidak bisa mengerjakan. Pada saat itu semua badannya gemetar, dan wajahnya terlihat pucat. Namun gambaran wajah yang berbeda ditunjukkan sebagian siswa yang berusaha sungguh-sungguh dan merasa bisa mengerjakan ujian dengan baik. Mereka sedikit terlihat cerah dan penuh dengan optimisme.
Inilah suasana ketika kita harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita kerjakan di dalam ujian nasional. Mari kita bayangkan jika momen ini terjadi setelah kita meninggal dunia. Kita diminta untuk menerima catatan segala sesuatu yang sudah kita kerjakan. Jika hanya menerima hasil ujian saja raut wajah sudah pucat dan tak berdaya, bagaimana seandainya jika kita harus menerima catatan amal selama hidup. Catatan amal yang kita sadari banyak kekurangan, dan banyak kemaksiatan. Kita teringat semua apa yang kita kerjakan dunia. Yang baik dan yang buruk semuanya muncul.
Pada saat itulah rasa takut dan cemas yang luar biasa dirasakan oleh setiap manusia. Wajah mereka membiru, sendi-sendi pun terasa lemas tak berdaya. Semua orang menyesali segala kesalahan yang sudah diperbuatnya semasa di dunia. Namun penyesalan tersebut tidaklah berguna. Pada saat itu allah tidak menghiraukan penyesalan orang-orang. Mereka harus menerima konsekuensi apa yang telah dilakukan.
Jika telah datang giliran menerima catatan amal maka kecemasan dan ketakutan semakin nampak. Terlebih pada saat buku catatan ama di bawa ke hadapan. Hati berharap semoga menerima dengan tangan kanan. Tak akan ada seorang pun yang ingin menerima catatan amal dengan tangan kiri. Tangan mana yang akan menerima itu akan menentukan nasib kita, ke neraka atau ke surga.
Jika menerima dengan tangan kanan itu artinya catatan amal dia akan mendapatkan surga. Maka orang yang menerima catatan amal dengan tangan kanan akan merasa sangat bahagia. Kebahgiaan mereka tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Karena mereka akan mendapatkan surga dan kebahagiaan hakiki. Jika dengan menerima raport yang bernilai bagus saja kita merasa bahagia, bagaimana rasanya jika kita menerima raport kehidupan kita. Jika raport ujian hanya akan menentukan sebagian dari episode kehidupan di dunia saja, bagaimana jika raport kehidupan yang akan kita terima kelak menentukan kehidupan abadi kita. Maka kebahagiaan yang luar biasa akan kita rasakan.
Namun berbeda keadaannya jika seseorang menerima catatan amal mereka dengan tangan kiri. Seketika itu juga mereka lemas tak berdaya, tak akan ada kebahagiaan sedikitpun tergambar dalam wajah orang terebut. Menangis sekeras-kerasnya dan menyesal sedalam-dalamnya,itulah yang mereka lakukan. Mereka berteriak dengan sekencang-kencanganya sebagai wujud rasa menyesalnya mereka. Mereka sadar bahwa mereka akan mendapatkan neraka yang penuh dengan api dan siksaan. Na’u dzubillahi mindzalik..
Sahabat sebelum kita menerima raport kehidupan kita, mari kita ukir raport kita dengan tinta emas(amal terbaik) kita. Selagi pertaubatan masih diperbolehkan marilah kita sadar akan kesalahan kita dan kembali ke jalan yang benar,,,semoga allah senantiasa menjaga tingkah laku kita, dan semoga allah senantiasa memaafkan atas segala kesalahan yang kita lakukan…. Aminnn
Faiziin, 24 januari 2011