Monday, January 24, 2011

Raport Kehidupan



Pada suatu hari seluruh siswa berkumpul di sebuah aula. Pakaian putih hitam yang dikenakan para siswa mendominasi aula sekolah. Terlihat wajah-wajah yang penuh dengan kecemasan,harapan, dan takut terlihat dari guratan kening para siswa. Coba tebak hari apakah itu ?
Ya, betul, itulah hari pengumuman kelulusan. Sebuah momen yang dinanti-nanti seluruh siswa setelah mereka melakukan ujian nasional. Setelah mereka menempuh pendidikan selama 3 tahun dan menjalani segala ujian-ujian yang ada di setiap tingkatnya. Maka pada hari pengumuman kelulusan inilah puncak dari segala usaha yang dilakukan siswa.
Karya akumulaatif yang diciptakan dari masing-masing individu akan mendapatkan penilaian pada hari itu. Nilai yang didapat masing-masing siswa akan berbeda, tergantung usaha yang diberikan. Ada yang mendapat nilai ada yang bagus,ada yang kurang bagus dan ada pula yang jelek hingga gelar tidak lulus pun disandang. Namun pada saat itu semua orang berharap agar mereka bisa lulus.
Nilai dan status kelulusan akan sangat menentukan nasib seseorang itulah persepsi masing-masing siswa.Sehingga pada saat penantian pengumuman kelulusan,hati mereka berdegup kencang,khwatir, cemas dan takut bercampur menjadi satu. Bahkan sebagian para siswa ada yang terlihat pucat seperti orang yang sedang sakit. Semuanya larut dalam ketegangan. Tak ada yang bisa bercanda lepas saat itu. Semua orang teringat apa yang sudah mereka usahakan. Ada yang terlihat murung, pucat, dan takut karena pada saat sebelum ujian tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Sehingga pada waktu ujian merasa tidak bisa mengerjakan. Pada saat itu semua badannya gemetar, dan wajahnya terlihat pucat. Namun gambaran wajah yang berbeda ditunjukkan sebagian siswa yang berusaha sungguh-sungguh dan merasa bisa mengerjakan ujian dengan baik. Mereka sedikit terlihat cerah dan penuh dengan optimisme.
Inilah suasana ketika kita harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita kerjakan di dalam ujian nasional. Mari kita bayangkan jika momen ini terjadi setelah kita meninggal dunia. Kita diminta untuk menerima catatan segala sesuatu yang sudah kita kerjakan. Jika hanya menerima hasil ujian saja raut wajah sudah pucat dan tak berdaya, bagaimana seandainya jika kita harus menerima catatan amal selama hidup. Catatan amal yang kita sadari banyak kekurangan, dan banyak kemaksiatan. Kita teringat semua apa yang kita kerjakan dunia. Yang baik dan yang buruk semuanya muncul.
Pada saat itulah rasa takut dan cemas yang luar biasa dirasakan oleh setiap manusia. Wajah mereka membiru, sendi-sendi pun terasa lemas tak berdaya. Semua orang menyesali segala kesalahan yang sudah diperbuatnya semasa di dunia. Namun penyesalan tersebut tidaklah berguna. Pada saat itu allah tidak menghiraukan penyesalan orang-orang. Mereka harus menerima konsekuensi apa yang telah dilakukan.
Jika telah datang giliran menerima catatan amal maka kecemasan dan ketakutan semakin nampak. Terlebih pada saat buku catatan ama di bawa ke hadapan. Hati berharap semoga menerima dengan tangan kanan. Tak akan ada seorang pun yang ingin menerima catatan amal dengan tangan kiri. Tangan mana yang akan menerima itu akan menentukan nasib kita, ke neraka atau ke surga.
Jika menerima dengan tangan kanan itu artinya catatan amal dia akan mendapatkan surga. Maka orang yang menerima catatan amal dengan tangan kanan akan merasa sangat bahagia. Kebahgiaan mereka tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Karena mereka akan mendapatkan surga dan kebahagiaan hakiki. Jika dengan menerima raport yang bernilai bagus saja kita merasa bahagia, bagaimana rasanya jika kita menerima raport kehidupan kita. Jika raport ujian hanya akan menentukan sebagian dari episode kehidupan di dunia saja, bagaimana jika raport kehidupan yang akan kita terima kelak menentukan kehidupan abadi kita. Maka kebahagiaan yang luar biasa akan kita rasakan.
Namun berbeda keadaannya jika seseorang menerima catatan amal mereka dengan tangan kiri. Seketika itu juga mereka lemas tak berdaya, tak akan ada kebahagiaan sedikitpun tergambar dalam wajah orang terebut. Menangis sekeras-kerasnya dan menyesal sedalam-dalamnya,itulah yang mereka lakukan. Mereka berteriak dengan sekencang-kencanganya sebagai wujud rasa menyesalnya mereka. Mereka sadar bahwa mereka akan mendapatkan neraka yang penuh dengan api dan siksaan. Na’u dzubillahi mindzalik..
Sahabat sebelum kita menerima raport kehidupan kita, mari kita ukir raport kita dengan tinta emas(amal terbaik) kita. Selagi pertaubatan masih diperbolehkan marilah kita sadar akan kesalahan kita dan kembali ke jalan yang benar,,,semoga allah senantiasa menjaga tingkah laku kita, dan semoga allah senantiasa memaafkan atas segala kesalahan yang kita lakukan…. Aminnn
Faiziin, 24 januari 2011

No comments:

Post a Comment