Friday, February 11, 2011

THE POWER OF FAITH



Sejarah telah mencatat tentang kekuatan pasukan muslimin pada zaman rasulullah dan dilanjutkan zaman khulafaur rasyidin. Hampir setiap pertempuran yang dilalui, kaum muslimin menuai sebuah kemenangan. Kemenangan demi kemenangan mereka raih hingga wilayah kekuasaan kaum muslimin pun semakin hari semakin meluas. Meluasnya wilayah kaum muslimin dapat terlihat jelas pada masa kekholifahan umar bin khotob. Pada zaman umar bin khotob memimpin, kaum muslimin memiliki aramada perang yang sangat tangguh. Bahkan kaum muslimin pun dapat mengalahkan kekuatan besar di zaman itu yaitu romawi dan persia. Beberapa wilayah yang semula berada dalam kekuasaan romawi perlahan tapi pasti berhasil direbut oleh kaum muslimin. Bahkan kekuasaan kaum muslimin pada masa umar mencapai perbatasan cina dan tentunya syam berhasil sepenuhnya bisa kita kuasai.

Dalam pertempuran, jumlah tentara kaum muslimin sering kali lebih sedikit dari pada jumlah tentara lawan. Pada perang badar misalnya. Jumlah kaum muslimin dengan kaum kafir quraisy berbanding 1 banding 3. Namun pada kenyataanya pasukan muslimin pun berhasil memenangkan pertarungan itu. Pada perang tabuk jumlah kaum muslim jauh lebih sedikit dari pada kaum kafir. Perbandingan jumlah mereka sekitar satu berbanding empat. Namun lagi-lagi kaum muslimin dapat memenangkan peperangan tersebut. Tidak kalah hebatnya pada waktu perang khandaq atau disebut juga perang parit. Kaum muslimin mendapat perlawanan dari gabungan kaum kafir, yang bersekutu untuk membumihanguskan penduduk muslim di madinah pada waktu itu. Tidak hanya itu kaum musilimin harus menghadapi orang-orang munafik yang berusaha menusuk dari belakang. Lagi-lagi pertolongan Allah turun dan kaum kafir pun mengalami kekalahan yang sangat telak yang kemudian disusul dengan peristiwa fathul makkah.

Timbul sebuah pertanyaan besar, apa faktor yang menyebabkan kaum muslimin dapat memenangkan setiap peperangan yang dilaluinya. Jika dilihat secara jumlah atau kuantitas tentara yang berperang, jelas kaum muslimin jauh lebih sedikit dari pada musuh. Jika di lihat dari peralatan yang ada, sering kali kaum muslimin memiliki peralatan perang seadanya. Peralatan perang kaum muslimin tidak secanggih peralatan perang musuh. Ini bisa kita lihat pada perang-perang melawan tentara romawi. Pada saat muhammad al fatih menjadi panglima perang dan berhasil merebut konstantin dari romawi, tentara muslim memiliki alat peperangan yang minim. Lantas apa yang membuat mereka begitu gagah di medan pertempuran dan berhasil mendapatkan kemenangan?

Ternyata ada sesuatu di balik kemenangan tentara muslim. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh pasukan musuh, yaitu akidah. Akidah atau yang lebih kita kenal dengan keimanan itulah yang menjadi sumber kekuatan pasukan. Akidah inilah yang mengobarkan semangat untuk senantiasa berjuang menegakkan kalimat allah di muka bumi. Akidah inilah yang membangkitkan motivasi yang kuat, motivasi yang tak akan pernah habis. Akidah inilah yang membuat mereka tidak pernah gentar menghadapi siapapun. Akidah inilah yang menyebabkan pasukan muslim rela mengorbakan jiwa dan raganya.

Bersumber pada akidah atau keimanan atau faith ini para sahabat rasulullah mencetak prestasi gemilang di masanya. Dengan faith inilah lahir sifat-sifat khas kaum muslim. Dari faith ini lahir motivasi yang kuat,keberanian yang sejati,dan cita-cita yang tinggi. Motivasi para sahabat ketika berangkat ke medan pertempuran adalah pulang membawa kemenangan atau menjemput kesyahidan. Mereka yakin bahwa tidak ada keburukan yang akan mereka terima ketika mereka berjuang membela islam. Setidaknya 1 diantara dua kebaikan di atas akan mereka raih. Dari motivasi ini lahir sebuah keberanian atau As-Saja’ah. Mereka tidak takut oleh apa pun. Bahkan sesuatu yang bagi musuh adalah hal yang paling menakutkan yaitu kematian,tidak membuat mereka gentar. Kematian malah merupakan cita-cita pasukan muslim. Sehingga dari faith inilah perlahan tapi pasti mereka memperoleh kemenangan demi kemenangan.

Begitulah generasi terbaik umat manusia menghadapi peperangan demi peperangan. Mereka senantiasa membawa keimanan dimanapun kapanpun dan dalam kondisi apapun. Bekal mereka hanya satu yaitu yakin kepada Allah SWT. Mereka yakin bahwa perjuangan yang mereka lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang indah. Mereka yakin Allah akan menepati janjinya yaitu memberikan surga kepada siapa saja yang membela agama Allah. Mereka yakin bahwa Allah akan senantiasa memberikan pertolongan ketika hambanya berada dalam kesulitan. Mereka yakin akan senantiasa diberi kemudahan di setiap rintangan yang mereka hadapi.

Umat muslim tidak pernah berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka selalu berpikir positif atas segala keputusan yang Allah berikan. Apa pun yang Allah berikan, mereka terima dengan lapang dada. Bahkan ketika sebuah musibah menimpa mereka, mereka menerimanya dengan lapang dada. Mereka mengambil hikmah dari setiap musibah yang mereka hadapi. Mereka tidak pernah mengeluh atas apa yang menimpanya. Mereka senantiasa ridho atas ketentuan Allah. Mungkin bagi sebagian manusia itu sesuatu yang buruk, namun mereka yakin itulah yang terbaik yang diputuskan Allah untuk hambanya.

Sahabat, begitulah generasi terbaik umat manusia menghadapi kehidupan. Sudah semestinya kita mencontoh apa yang mereka lakukan. Faith atau keimanan harus tetap kita jaga dalam hati kita. Jangan pernah sekalipun melepaskan keimanan dalam diri kita. Karena itu adalah sumber kekuatan yang kita miliki. Karena keimanan itulah sumber motivasi sejati yang tak akan pernah habis. Faith inilah yang akan menjadi energi kita dalam menghadaopi persoalan.

Sahabat, jika pada zaman rasulullah mereka diuji dengan peperangan mereka berbekal keimanan. Maka pada masa kini umat manusia tidak diuji lagi dengan masalah peperangan fisik. Jika kita analogikan perjuangan yang dilakukan para sahabat rasul dengan ujian yang kita alami sekarang,maka keimanan itulah yang akan menyelesaikan ujian yang kita hadapi. Generasi terbaik menjadi generasi pemenang dengan keimanan. Jika kita ingin memenangkan setiap permasalahan hidup yang kita hadapi, jika kita ingin menjadi pemenang dalam setiap ujian hidup kita, maka mutlak bagi kita untuk senantiasa berbekal keimanan.

Yakinlah bahwa Allah akan senantiasa memberikan kemudahan di setiap kesulitan yang kita terima. Yakinlah bahwa segal hal yang menimpa kita itu adalah keputusan yang terbaik. Kadang kala Allah memberikan keputusan yang menurut kita kurang baik, namun ketahuilah bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita. Barangkali tidak setiap doa yang kita panjatkan langsung dikabulkan oleh Allah. Karena allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan setiap apa yang kita minta. Namun harus yakin bahwa sesuatu yang kita panjatkan pasti akan allah berikan, kapan waktunya???itu yang kita tidak tahu.

Jadi jangan pernah menyerah menghadapi hidup. Karena hidup adalah rangkaian perjuangan. Karena inti dari hidup adalah menyelesaikan masalah. Jangan pernah hidup jika takut menghadapi masalah. Karena sesungguhnya masalah itu ada untuk mendewasakan kita. Jadikanlah keyakinan, faith,keimanan kepada Allah sebagai bekal utama untuk menghadapi setiap permasalahan. Jangan ragu jika ingin memohon pertolongan kepada Allah, karena Allah lah satu-satunya tempat memohon,,,,
SO JADILAH PEMENANG……JANGAN PERNAH BERHENTI BERJUANG
Purworejo, 9 Februari 2011
Faiziin

Thursday, January 27, 2011

ALLAH BERSAMA KITA



Suatu hari seorang mahasiswa bernama fulan duduk termenung. Dia duduk di salah satu sudut masjid yang biasa dia gunakan solat. Fulan duduk tanpa seorang teman. Tatapan mata yang kosong dan muka yang kusut nampak jelas terlihat di wajahnya. Sesekali dia menundukkan kepalanya. Sesekali pula air matanya menetes. Dari ekspresi yang ditampakkan nampak bahwa ada sebuah masalah yang menghinggapinya.

Fulan adalah seorang mahasiswa S1 di sebuah universitas. Dia kuliah di satu jurusan yang cukup favorit di kampus tersebut. Secara ekonomi fulan tergolong kurang mampu. Bapak dan ibunya hanyalah seorang petani dan pekerja srabutan. Dia adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Kebetulan juga dia adalah anak laki-laki satu-satunya dari ke-5 besaudara.

Selayaknya mahasiswa yang lainnya, setiap hari dia pergi ke kampus. Setiap hari pula dia harus bergulat dengan laporan dan tugas, lum lagi ujian sisipan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Hidup seakan-akan begitu dinamis. Namun ada yang membedakan antara fulan dengan yang lainnya. Aktivitas dia di kampus tidak hanya belajar,mengerjakan tugas dan membuat PR. Dia harus mengerjakan tugas-tugas organisasi yang dia ikuti. Fulan ini adalah seorang aktivis di kampusnya jadi wajarnya saja jika ada sekian banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Lagi pula dia adalah ketua dalam sebuah organisasi. Semakin berat aja,,,tugasnya,,,pokoknya crowded banget lah…

Fulan adalah seorang aktivis dakwah juga. berbagai kegiatan syiar agama dan dakwah sering kali ia ikuti. Dia juga dikenal sebagai orang yang ramah dan baik hati. Orangya murah senyum, tidak sombong, peduli dengan orang lain, dan suka menolong. Setiap hari pekerjaannya tidak lepas dari nuansa keislaman dan dakwah.
Layakanya aktivis dakwah yang lain sering kali masalah-masalah datang menyapanya. Namun kali ini masalahnya cukup berat bagi dia. Masalah akademik yang harus segera ia selesaikan karena tahun ini adalah tahun keempat dia di kampus. Namun amanah dakwah di kampus tidak kunjung selesai,bahkan bertambah berat. Belum lagi ditambah dengan kondisi keluarganya yang memaksanya agar cepat menyelesaikan kuliahnya. Karena orang tuanya sudah tidak mampu lagi membiayainya. Otomatis setelah tahun keempat dia harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri alias mandiri. Padahal saat ini dia belum mempunyai pekerjaan apapun.
Sesekali dia menangis karena teringat akan tanggung jawabnya kepada orang tua. Dia juga bingung bagaimana dengan amanah dakwahnya. Ditambah dengan tanggungan dia pada masalah ekonomi. Masalah ini begitu menyita waktu dan energi baginya. Sering kali dia duduk terdiam sendirian.
Sahabat, mungkin akan ada banyak aktivis dakwah yang bernasib hampir sama dengan “fulan”. Seorang aktivis dakwah dengan se-abreg masalah yang menderanya setiap waktu. Namun jika kita perhatikan dalam sebuah masalah ada hikmah yang ingin Allah sampaikan kepada hambanya. Ada ibroh yang bisa diambil.
Bahwa manusia pasti memiliki masalah adalah sebuah keniscayaan. Karena lewat masalah itulah Allah mendidik hambanya. Sikap kita terahadap masalah itulah yang akan membentuk seseorang. Cara kita menyelesaikan masalah itulah yang akan mendidik kita menjado prang dewasa.
Memang ada banyak sikap yang ditunjukkan ketika masalah itu hinggap pada diri seseorang. Ada yang mengeluh, menggerutu,menangis, dan ada pula yang tegar menghadapinya. Masing-masing orang memiliki cara tersendiri dalam menyikapi masalah yang ada. Namun yang perlu kita tahu adalah bagaimana cara rasulullah menghadapi masalah yang ada. Bagaimana sikap rasulullah saat masalah besar sedang beliau hadapi.
Rasulullah SAW senantiasa berusaha dengan segala kemampuannya untuk menyelesaikan masalah. Rasulullah SAW selalu tegar dalam menghadapi setiap masalah yang datang. Namun rasulullah juga senantiasa berdoa kepada Allah agar senantiasa dimudahkan dalam setiap urusan yang beliau hadapi. Sering kali Allah membalas doa-doa Rasulullah melalui ayat Alquran.
Wahai sahabat, coba perhatikan surat al Insiyirah di bawah ini:
                 •   •  •            
1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
3. yang memberatkan punggungmu[1584]?
4. dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu[1585],
5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain[1586],
8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Ayat ini merupakan jawaban atas doa rasulullah sewaktu rasulullah mendapat banyak kesulitan dalam menyampaikan risalah. Allah ingin menegaskan bahwa Dia tidak akan meninggalkan hambanya saat hambanya sedang berada dalam kesusahan. Bahwa Allah akan senantiasa menjadi pembela dan penolong para dai yang sedang memperjuangkan agama Allah di muka bumi ini. Dia yang akan melapangkan dada para aktivis dakwah ketika beribu masalah menderanya.
Allah telah berjanji dalam surat alam nasyrah di atas bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Ketika kita mengalami kesulitan dan masalah maka disitulah Allah titipkan kemudahan untuk hambanya. Allah titipkan berbagai nikmat kepada hambanya yang sedang mengalami ujian. Misalnya ketika kita diberi ujian, badan kita sakit. Pada saat itulah Allah menitipkan kenikmatan berupa gugurnya dosa kita ketika kita sabar akan rasa sakit itu. Akan ada banyak pahala yang akan di dapat orang yang bersabar dalam sakitnya.
Sahabat, Allah tidak buta, Allah juga tidak tuli. Allah tahu betul keadaan hambanya. Dia senantiasa mengawasi kita dan mendidik kita dengan berbagai ujian yang diberikan kepada hambanya. Orang yang dicintai Allah adalah orang yang mendapat ujian dari Allah. Semakin berat ujian seseorang maka cinta Allah kepada orang tersebut akan semakin besar.
Jika kita perhatikan Allah senantiasa memberikan cobaan yang berat kepada orang-orang yang dicintai Nya. Para nabi dan rasul mendapat cobaan yang sanagat berat. Cobaan yang diberikan kepada mereka melampaui cobaan yang diberikan kepada orang biasa. Namun ternyata ujian dan cobaan itulah yang membuat mereka mulia di sisi Allah.
Nuh AS yang senantiasa sabar menghadapi keluarga dan kaumnya yang bengal. Musa yang senantiasa bertahan dengan kaumnya yang menentang dan kekuatan besar ayah angkatnya yaiitu fira’aun yang senantiasa mengancam nyawanya. Rasulullah yang senantiasa tegar dan sabar mengahadapi ulah kaum kafir quraisy yang senantiasa menentang dan mengahalangi dakwah beliau. Ternyata kesabaran, ketegaran dan kelapangan merekalah yang membuat mulia di sisi Allah. Selain itu mereka senantiasa meminta kepada Allah agar senantiasa memberikan kelapangan, ketegaran, dan kemudahan dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan.
Musa As ketika diperintah berdakwah kepada firaun beliau meminta kepada Allah supaya dimudahkan dalam setiap urusan. Doa Musa AS diabadikan dalam alquran surat thoha ayat 25-35 ini doa nabi Musa AS.
                                        •  •    
25. berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku[915],
26. dan mudahkanlah untukku urusanku,
27. dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
28. supaya mereka mengerti perkataanku,
29. dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,
30. (yaitu) Harun, saudaraku,
31. teguhkanlah dengan Dia kekuatanku,
32. dan jadikankanlah Dia sekutu dalam urusanku,
33. supaya Kami banyak bertasbih kepada Engkau,
34. dan banyak mengingat Engkau.
35. Sesungguhnya Engkau adalah Maha melihat (keadaan) kami".

[915] Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah agar dadanya dilapangkan untuk menghadapi Fir'aun yang terkenal sebagai seorang raja yang kejam.
Ini membuktikan bahwa nabi Musa AS juga tidak pernah meninggalkan Allah SWT dalam setiap urusannya. Musa AS selalu meminta pertolongan kepada Dzat Yang Maha kuasa untuk memudahkan segala urusannya. Karean nabi Musa sadar betul bahwa Allah lah satu-satunya tempat berharap. Allah lah tempat meminta pertolongan.
Sebagai aktivis dakwah sudah selayaknya kita mencontoh apa yang dulu pernah dicontohkan oleh para suri tauladan kita. Yakinlah bahwa Allah senantiasa membantu kita. Yakinlah bahwa Allah tidak tidur, yakinlah bahwa Allah maha melihat. Maka hanya kepadaNya lah tempat kita bergantung.
Sahabtku jika kita sadar bahwa masalah yang sedang menimpa kita adalah seseuatu yang akan mendewasakan kita maka tidak perlu mengeluh dalam menghadapi masalah. Tidak perlu menangis dalam menghadapi masalah. Tidak perlu merasa sendiri dalam menghadapi masalah. Ada Allah bersama kita dan ada sahabat sejati yang siap membantu kita. Ada sahabat kita yang senantiasa menjadi tempat kita sharing. Selayaknya Musa AS menjadikan Harun sebagai partner dakwahnya.
Masalah itu untuk diselesaikan bukan untuk ditangisi atau diratapi. Serahkan semuanya kepada Allah setelah kita berusaha. Minta tolonglah kepada Allah selagi kita bisa minta. Jangan pernah biarkan hati kita kosong tanpa Allah. Allah senantiasa mendengar keluh kesah mu kawan. Allah akan senantiasa menjanjikan kenikmatan yang tiada tara untuk para pejuang dakwah. Allah menjanjikan kenikmatan surga bagi kekasihNya. Yakinlah semua yang Allah janjikan pasti bisa kita raih….
Next selamat berjuang, jangn pernah menyerah …..

Faiziin
Yogyakarta, 27 Januari 2011

Monday, January 24, 2011

Raport Kehidupan



Pada suatu hari seluruh siswa berkumpul di sebuah aula. Pakaian putih hitam yang dikenakan para siswa mendominasi aula sekolah. Terlihat wajah-wajah yang penuh dengan kecemasan,harapan, dan takut terlihat dari guratan kening para siswa. Coba tebak hari apakah itu ?
Ya, betul, itulah hari pengumuman kelulusan. Sebuah momen yang dinanti-nanti seluruh siswa setelah mereka melakukan ujian nasional. Setelah mereka menempuh pendidikan selama 3 tahun dan menjalani segala ujian-ujian yang ada di setiap tingkatnya. Maka pada hari pengumuman kelulusan inilah puncak dari segala usaha yang dilakukan siswa.
Karya akumulaatif yang diciptakan dari masing-masing individu akan mendapatkan penilaian pada hari itu. Nilai yang didapat masing-masing siswa akan berbeda, tergantung usaha yang diberikan. Ada yang mendapat nilai ada yang bagus,ada yang kurang bagus dan ada pula yang jelek hingga gelar tidak lulus pun disandang. Namun pada saat itu semua orang berharap agar mereka bisa lulus.
Nilai dan status kelulusan akan sangat menentukan nasib seseorang itulah persepsi masing-masing siswa.Sehingga pada saat penantian pengumuman kelulusan,hati mereka berdegup kencang,khwatir, cemas dan takut bercampur menjadi satu. Bahkan sebagian para siswa ada yang terlihat pucat seperti orang yang sedang sakit. Semuanya larut dalam ketegangan. Tak ada yang bisa bercanda lepas saat itu. Semua orang teringat apa yang sudah mereka usahakan. Ada yang terlihat murung, pucat, dan takut karena pada saat sebelum ujian tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Sehingga pada waktu ujian merasa tidak bisa mengerjakan. Pada saat itu semua badannya gemetar, dan wajahnya terlihat pucat. Namun gambaran wajah yang berbeda ditunjukkan sebagian siswa yang berusaha sungguh-sungguh dan merasa bisa mengerjakan ujian dengan baik. Mereka sedikit terlihat cerah dan penuh dengan optimisme.
Inilah suasana ketika kita harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita kerjakan di dalam ujian nasional. Mari kita bayangkan jika momen ini terjadi setelah kita meninggal dunia. Kita diminta untuk menerima catatan segala sesuatu yang sudah kita kerjakan. Jika hanya menerima hasil ujian saja raut wajah sudah pucat dan tak berdaya, bagaimana seandainya jika kita harus menerima catatan amal selama hidup. Catatan amal yang kita sadari banyak kekurangan, dan banyak kemaksiatan. Kita teringat semua apa yang kita kerjakan dunia. Yang baik dan yang buruk semuanya muncul.
Pada saat itulah rasa takut dan cemas yang luar biasa dirasakan oleh setiap manusia. Wajah mereka membiru, sendi-sendi pun terasa lemas tak berdaya. Semua orang menyesali segala kesalahan yang sudah diperbuatnya semasa di dunia. Namun penyesalan tersebut tidaklah berguna. Pada saat itu allah tidak menghiraukan penyesalan orang-orang. Mereka harus menerima konsekuensi apa yang telah dilakukan.
Jika telah datang giliran menerima catatan amal maka kecemasan dan ketakutan semakin nampak. Terlebih pada saat buku catatan ama di bawa ke hadapan. Hati berharap semoga menerima dengan tangan kanan. Tak akan ada seorang pun yang ingin menerima catatan amal dengan tangan kiri. Tangan mana yang akan menerima itu akan menentukan nasib kita, ke neraka atau ke surga.
Jika menerima dengan tangan kanan itu artinya catatan amal dia akan mendapatkan surga. Maka orang yang menerima catatan amal dengan tangan kanan akan merasa sangat bahagia. Kebahgiaan mereka tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Karena mereka akan mendapatkan surga dan kebahagiaan hakiki. Jika dengan menerima raport yang bernilai bagus saja kita merasa bahagia, bagaimana rasanya jika kita menerima raport kehidupan kita. Jika raport ujian hanya akan menentukan sebagian dari episode kehidupan di dunia saja, bagaimana jika raport kehidupan yang akan kita terima kelak menentukan kehidupan abadi kita. Maka kebahagiaan yang luar biasa akan kita rasakan.
Namun berbeda keadaannya jika seseorang menerima catatan amal mereka dengan tangan kiri. Seketika itu juga mereka lemas tak berdaya, tak akan ada kebahagiaan sedikitpun tergambar dalam wajah orang terebut. Menangis sekeras-kerasnya dan menyesal sedalam-dalamnya,itulah yang mereka lakukan. Mereka berteriak dengan sekencang-kencanganya sebagai wujud rasa menyesalnya mereka. Mereka sadar bahwa mereka akan mendapatkan neraka yang penuh dengan api dan siksaan. Na’u dzubillahi mindzalik..
Sahabat sebelum kita menerima raport kehidupan kita, mari kita ukir raport kita dengan tinta emas(amal terbaik) kita. Selagi pertaubatan masih diperbolehkan marilah kita sadar akan kesalahan kita dan kembali ke jalan yang benar,,,semoga allah senantiasa menjaga tingkah laku kita, dan semoga allah senantiasa memaafkan atas segala kesalahan yang kita lakukan…. Aminnn
Faiziin, 24 januari 2011

Thursday, May 13, 2010

syaksiyah islamiyah

1. Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang sepatutnya ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam‘ (QS 6:162).
Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah.
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ‘shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.‘ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq.
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung‘ (QS 68:4).
4. Qowiyyul Jismi.
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Oleh karena itu, kesiatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sering sakit. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah‘ (HR. Muslim).
5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.‘ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (QS 2:219).
Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktiviti berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Dapat kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
6. Mujahadatul Linafsihi.
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.
Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Harishun Ala Waqtihi.
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.
Allah swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.‘ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, rehat sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syuunihi.
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya penerusan dan berilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
9. Qodirun Alal Kasbi.
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan kekuasaan (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru boleh dilaksanakan bilakala seseorang memiliki kekuasaan, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umrah, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan menciptakan kekuasaan inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.
10. Nafi’un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksima agar dapat bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peranan yang baik dalam masyarakatnya.

Saturday, May 1, 2010

Di Balik Kegagalan Ada Kesuksesan

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Beberapa minggu belakangan ini, nyaris seluruh pelajar di Indonesia disibukkan dengan persiapan ujian. Ada yang bersiap-siap menghadapi UAN dan ada pula yang bersiap-siap untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi, baik SPMB maupun tes masuk pascasarjana. Persiapan itu kerap menimbulkan beraneka kecemasan, dari takutnya tidak berhasil mencapai nilai atau lolos di universitas yang diidamkan hingga ketakutan tidak lulus seleksi sama sekali. Cemas adalah hal yang cukup wajar. Tapi jangan sampai merusak konsentrasi, apalagi jika membuat labil saat mendekati ujian.

Ujian yang dihadapi, sejatinya harus diberangi dengan mengingat kesuksesan yang sudah dicapai selama ini. Karena kenangan itu laik untuk membuat kita semakin optimis ‘menembus batas’ yang diharapkan. Sekalipun nanti hasilnya tidak lulus, tapi tetap saja itu adalah keberhasilan.

Keberhasilan adalah ragam kemampuan dalam menempuh ujian yang sedang dilalui. Keberhasilan adalah jenis ‘kemasan’ beberapa kemampuan yang dikumpulkan dan bukan jenis paket yang berdiri sendiri. Demikian juga kegagalan. Ia merupakan paket kemampuan yang tak dapat mencapai target yang ditetapkan. Maka, ketika mendapat kegagalan, sungguh tidak tepat jika kita terus dalam kondisi uring-uringan. Karena masih ada beberapa kesuksesan yang pernah kita capai, dan itu seharusnya tidak kita lupakan.

Benar, kita akan tetap merasakan kesal. Tapi ingat ada beberapa kesuksesan yang seharusnya juga dapat membuat kita tersenyum. Misalnya bagi mereka yang ikut tes masuk perguruan tinggi. Setelah pengumuman hasil ujian dipublikasikan, ternyata termasuk kategori calon mahasiswa yang tidak lulus. Apakah pantas meluapkan kekesalannya dengan uring-uringan? Apakah layak mengklaim ada ‘permainan orang dalam’ sehingga anda tidak lulus? Sungguh ironi, jika kita selalu suuzzhon saat menyikapi kenyataan yang ada. Selayaknya, kita tetap untuk terus melihat dan menata kembali seperti apa usaha yang kita lakukan saat ujian?

Karena, tak ada api kalau tidak ada kayu. Ya, pribahasa ini cukup tepat kita jadikan langkah yang cepat menyikapi hal yang tidak diinginkan. Bisa jadi, ketatnya persaingan dan banyaknya peminat menjadi salah satu penyebabnya. Mungkin kita merasa usaha kita selama ini sudah cukup. Kenyataanya, kemampuan yang kita miliki belum mencapai nilai rata-rata yang ditetapkan.

Dalam menyikapi peristiwa ini, sudah selayaknya kita merujuk bagaimana semangat Rasulullah Saw. dalam menyebarkan dakwah. Beliau bersaing dengan pembesar Quraisy yang selalu menghalang-halanginya dalam menyebarkan agama Islam. Apakah Rasulullah selalu berhasil? Beragam kegagalan pernah dirasakannya. Tapi, Rasulullah tak pernah mundur setapak pun. Gagalnya mengajak pamannya Abu Thalib untuk masuk Islam salah satu contohnya. Rasulullah tidak pernah uring-uringan menyesalkan hal itu. Ia tetap merasa sukses karena pamannya tidak membencinya sekalipun dia mengajaknya masuk Islam. Juga, keberhasilan besar yang dimilikinya adalah kemampuannya mengajak Khadijah, isterinya memeluk Islam.

Tiga belas tahun Rasulullah ditolak dan disakiti saat ia menyebarkan Islam, tapi Rasulullah tetap mengklaimnya sebagai keberhasilan. Karena dengan beberapa kali mengalami kegagalan Rasulullah mampu mengenal karakter-karakter mereka. Sehingga ketika ia hijrah dan menetap di Madinah, beliau berhasil membangun peradaban baru yang luar biasa dan akhirnya dengan sangat mudah ‘menduduki’ Mekkah kembali, karena telah mengenal karakteristik mereka. Setelah memiliki potensi yang maksimal, Rasulullah pun dapat dengan mudah menguasi Mekkah.

Jadi, demikianlah kita menyikapi kegagalan yang dihadapi. Dibalik kegagalan sebenarnya kita sudah menemukan beberapa kesuksesan. Hanya saja, kita lebih sering melihat hasil garis finish dari start. Padahal, tidak akan dapat mencapai finish kesuksesan tanpa melalui jalur start. Renungkalah ragam kehidupan kita, tidak ada yang mulus terus menerus menikmati kesuksesan. Karena Rasul Allah sendiri kerap menemukan kegagalan. Hanya dengan senantiasa memahami makna yang tersirat di dalam surat al-Mulk: 2, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, “ kita akan dapat menata diri untuk meraih kesuksesan.

Ayat di atas mensinyalir, bahwa kita selalu menemukan kehidupan dan kematian atau menemukan kesuksesan dan kegagalan. Semua itu adalah ujian untuk dapat membedakan siapa amalnya yang paling baik. Jika berhasil mendapatkan kesukesan atau amal yang paling baik, maka itu bukti keperkasaan Allah Swt. Bila gagal, itu merupakan saat untuk kembali mencoba lagi. Bukankah Allah Tuhan yang Maha Pengampun. Karena itu, tidak ada kegagalan jika terus berusaha dan berdoa agar bisa meraih kesuksesan.

Pukul 22:03
20 April 2008
Rumah Sakit Mitra International (RSMI) Jatinegara Timur. Jakarta Timur.